Absensi Jasmine New! -

“Ibu tahu kamu sedang berat,” kata Bu Ratna kemudian, suaranya lembut tetapi tegas. “Tapi kehadiranmu di sini bukan hanya untuk absensi. Kamu punya teman-teman, punya ibu guru yang peduli. Kalau capek, jangan ragu bilang.”

Setiap pagi, pukul 06.45, Bu Ratna, guru wali kelas XII IPA 1, selalu memegang buku absensi biru tua. Buku itu sudah lusuh di sudut-sudutnya, tetapi masih setia mencatat kehadiran tiga puluh dua siswa. Namun, selama sebulan terakhir, ada satu nama yang selalu menyisakan tanda tanya: .

Di akhir semester, buku absensi biru tua itu sudah diganti dengan yang baru. Tapi halaman terakhir buku lama, yang berisi nama Jasmine sepanjang dua bulan terakhir, masih disimpan Bu Ratna di laci mejanya. Di samping setiap tanggal, ada titik-titik kecil yang baginya berarti: absensi jasmine

Tapi di buku absensi, Bu Ratna tidak langsung menulis “H”. Ia menutup buku itu sejenak, lalu berbisik, “Nak, kamu kuat?”

“Ibu, Jasmine tadi sempat chat,” kata Sarah, teman sebangkunya. “Katanya ayahnya masuk UGD lagi.” “Ibu tahu kamu sedang berat,” kata Bu Ratna

Suatu Senin pagi, hujan deras mengguyur kota. Bu Ratna sudah siap dengan pulpen merahnya. “Jasmine,” panggilnya, tanpa perlu menengok ke bangku kosong di pojok belakang. “Hari ini izin lagi?”

Jasmine menggeleng pelan. Air matanya jatuh. Ruang kelas hening. Kalau capek, jangan ragu bilang

Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih.